Kamis, 28 Januari 2016

Review : Ketika Mas Gagah Pergi

www.flp.or.id 
www.kmgpthemovie.com


'Ketika Mas Gagah Pergi'


"Memang pergi kemana?"

“Kenapa?”, dan “Untuk apa?”
Tiga pertanyaan yang tidak akan mendapat jawaban jika aku tidak membaca utuh ceritanya.
Aku merasa beruntung diberi lebih rasa ingin tahu untuk membaca dari sekedar bisa menebak-nebak. Dan merasa lebih beruntung lagi ketika aku bisa lebih dulu membaca utuh cerita ini dalam bentuk cerpen dari sebuah halaman yang ku ‘Like’ di facebook.

Dan alasan terkuatku saat itu hanyalah untuk mendapatkan jawaban pasti atas tiga pertanyaan ku.


Mas Gagah berubah!

Masih belum dapet jawaban, Malah makin Penasaran.
Gagah Perwira Pratama, nama lengkap tokoh utama dalam cerpen ini.
Mas Gagah, begitu panggilannya.
Ia adalah sosok laki-laki yang di gambarkan baik, cerdas, periang, dan katanya ganteng.
Cerdas disini, karna Mas Gagah diceritakan sudah mampu membiayai kuliahnya sendiri dari hasil mengajar privat matematika anak SMP dan SMA, menjadi model majalah, hingga menjadi senpai di sebuah klub karate.
Mas Gagah tidak pernah membiarkan adiknya merasa sendiri dengan selalu berusaha mengajarinya banyak hal. Mas Gagah yang jago bela diri, juga ingin mengajarkan kepada adik perempuannya, kemampuan bela diri. Tapi Mas Gagah tidak pernah benar-benar lupa kalau yang dia miliki adalah adik perempuan bukan adik laki-laki.
“Ngga usah kursus. Kursus sama Mas aja. Habis ini latihan modeling ya, biar jalanmu ngga lebih gagah dari Mas!”
Mas Gagah yang tak ingin adik perempuannya melupakan bahwa dirinya adalah seorang perempuan.

Serunya Kakak-Beradik ini.


Mas Gagah dalam pandangan adik perempuannya adalah sosok ideal. kombinasi yang unik dari banyak talenta. Ia punya rancangan masa depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan shalat! He's a very easy going person. Almost perfect!


Sampai aku mengerti perubahan yang dimaksud adik perempuannya Mas Gagah ini.


Gita Ayu Pratiwi, inilah nama adik perempuan dari Mas Gagah.

Gita tak suka bila Mas Gagah memanggilnya dengan nama Gito. Walaupun itu lebih sesuai dengan penampilannya dengan rambut yang dipotong 'trondol'

Gita, cewek 'tomboy' yang menurutku beruntung memiliki kakak seperti Mas Gagah yang siap menemani kemanapun ia hendak pergi. Dari Jalan-jalan, nonton film, konser musik atau sekedar bercanda bersama teman-teman SMAnya, Mas Gagah tidak pernah merasa keberatan melakukannya. Gita bahkan sering menerima pujian dari teman-temannya yang diarahkan langsung untuk Mas Gagahnya itu.


Namun semua sikap Mas Gagah yang asik dan manis itu dianggap Gita telah hilang sekembalinya Mas Gagah dari Ternate. Mengerjakan tugas kampus katanya.

Gita sampai menghitung perubahan sikap Mas Gagah dari hari pertama kepulangannya.
Gita yang datang bersama Mamah untuk menjemput Mas Gagah di bandara, dibuat terkejut dengan penampilan baru Mas Gagah yang berbaju Koko (baju muslim untuk laki-laki) juga berjenggot. Gita dan Mamah bahkan sampai terbata-bata menjawab salam dari Mas Gagah.

Gita tak biasa menjalani hari-harinya tanpa Mas Gagah.

Mas Gagahnya "Yang dulu"...

"Mas Gagah ngapaaain aja sih disanaaa?"

"Mas ketemu kiai hebat di Ternate," cerita Mas Gagah antusias. "Namanya Kiai Ghufron! Subhanallah, orangnya sangat bersahaja, santri-santrinya luar biasa! Disana Mas memakai waktu luang Mas untuk mengaji pada beliau. Dan tiba-tiba dunia jadi lebih benderang!"
Mas jadi tahu bahwa; Islam itu Indah, Islam itu Cinta.
"Nanti kapan-kapan kita kesana ya 'Dik Manis'"
"Hah! 'Dik Manis'?! bukan ekspresi senang yang ditunjukan Gita setelah mendengar penjelasan dari Mas Gagah atas pertanyaannya.
"Gita ngga ngerti apa yang Mas omongin. Dan Lebay!" ucapnya sambil ngeloyor pergi.
Mamah yang walau tak ikut pergi meninggalkan Gagah putranya, juga tidak berkata apapun.

Gita protes dengan sikap Mas Gagahnya yang ngga mau salaman sama tresye, padahal tresye teman modelingnya sendiri.

"sok keren banget sih Mas? Masak ngga mau salaman sama tresye juga?" tegur Gita saat itu. "jangan gitu dong. Sama aja ngga menghargai orang!"
"Justru karna Mas menghargai dia makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada amat sabar. "Gita lihat kan orang sunda salaman? Santun meski ngga sentuhan. Itu sangat baik!"
"nih, baca yah Dik Manis" Mas Gagah memberikan Gita sebuah buku.
Lalu dibaca Gita dengan sangat lantang dan apa adanya;
"Dari 'Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah. Rasulullah SAW tidak pernah berjabat tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadist Bukhari Muslim!"

"Tapi Kiai Anwar mau salaman sama mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustad Ali." Bantahnya.

"Bukankah Rasulullah uswatun hasanah? Teladan terbaik?"
Memang dasar Gita! ia malah buat perbandingan dari jawaban Mas Gagahnya.

"Biar saja mereka begitu, tetapi Mas tidak, ngga apa kan? Coba untuk mengerti dan menghargai ya, Dik Manis?" jelas Mas Gagah lagi.

Dan seperti biasa, Gita ngeloyor pergi sambil mangkel.

Dalam perjalanan diantar ke sekolahpun Gita masih memprotes perubahan sikap dari Mas Gagahnya.

"Pengeng Maas kuping Gita! kitakan bukan orang arab! kenapa harus denger lagu-lagu itu!"
"Ini Nasyid Git, kalau yang kemarin belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala."
lalu Gita memutuskan turun dari mobil Mas Gagahnya.
Dan setelah itu, Gita selalu memutuskan pergi dan pulang sekolah sendiri tanpa di antar atau di jemput oleh Mas Gagah. Namun di angkutan umum Gita malah bertemu laki-laki yang dianggapnya lebih 'lebay' dari Mas Gagah.
Gita mengira Laki-laki berkemeja kotak-kotak yang ia temui dalam bus itu adalah teman 'seperguruan' Mas Gagah.

Gue bingung sama kakak gue Tik.

Tika, teman sekolah yang paling dekat dengan Gita.
Menurutku Tika ini lucu. Dia banyak menggunakan kata-kata yang terlalu gaul, sehingga membuatku berfikir keras untuk tahu apa maksud dan artinya. Tapi akhirnya, aku SaBi memahaminya.

"Gue ribut terus sama Mas Gagah, rumah rasanya panas Tik"

Tika berinisiatif ngajak Gita ke temen-temen Rohis mereka yang ada di sekolah.
Teman Gita yang mendengar cerita tentang Mas Gagahnya, langsung memberi tahu Gita.
"Subhanallah, berarti kakak kamu ikhwan dong!" terang teman rohis Gita.
"Ikhwan?" ulang Gita. " Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau Tekwan?" pertanyaan Gita sekenanya.
"Huss! untuk laki-laki ikhwan, untuk perempuan akhwat. Artinya saudara, Biasa dipakai untuk menyapa saudara seikan kita." ujar Tika yang berada disebelah Gita.
Satu malam, Mamah mendengar keributan antara dua orang anaknya ini. Malam itu Gita sangat Marah pada Mas Gagahnya yang memberikan semua uang untuk rencana Backpekeran mereka ke "Pensiunan Preman' yang katanya lebih membutuhkan uang itu untuk membantu merawat anak-anak kecil disana. Keributan yang terdengar sampai pada asumsi Gita yang mengira Mas Gagahnya ikut aliran sesat.
Mamah yang juga bertanya-tanya atas perubahan sikap Putranya, langsung memperingatkan.
"Mamah tau apa yang kamu lakuin ini baik Gah, tapi Mamah minta satu hal; Dengan kamu yang sekarang ini, jangan bawa masalah ke rumah ini."

Mas Gagah sendiri tidak ingin keributan dalam rumah ini terjadi terus-menerus. Jika Mas Gagah belum bisa membuat Dik Manisnya mengerti, maka Mas Gagah mencoba membuat Mamahnya mengerti.

Mas Gagah mengajak Mamah ketempatnya berbagi dengan anak-anak yang kurang beruntung dirumah yang dinamai "Rumah Cinta". Disana pulalah Kang Ucok, Bang Urip dan Kang Asep, tiga pensiunan preman itu membantu.
Mamah terharu ternyata Putranya memiliki hati yang tulus untuk membantu anak-anak dan orang tua yang membutuhkan bantuan di rumah yang juga didirikannya. Disana ada salah seorang ibu yang memberikan sesuatu yang ia buat sendiri untuk Mamahnya Mas Gagah. Sebuah Hijab yang diterima Mamah dengan lelehan air mata.

Belum selesai masalahnya dengan Mas Gagah, Gita malah di kejutkan dengan denga penampilan baru Tika teman dekat itu. Hari itu Tika datang ke sekolah dengan sudah mengenakan Hijab. Tentu saja Gita terkejut dan menanyai temannya ini.

"Tik, kenapa loe?"
"emang kenapa?" salah yah pake hijab?"
"ngga sih cumaaa?!
"Ini oleh-oleh dari sepupu gue yang kuliah di Amerika Git. Ini emang bukan gue banget. Tapi setelah dia cerita banyak hal tentang hijab, gue jadi mau pake. Dia kuliah di Amerika, pulang malah pake hijab. Nanti kapan-kapan gue kenalin deh."
"Ngga mau 'ah gue, ntar gue ketularan kaya Mas Gagah" tolak Gita.

Yudhistira Arifin, nama laki-laki berkemeja kotak-kotak yang di temui Gita dalam angkutan umum.

"Assalmu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh... "Berapa banyak orang miskin kerena perilaku korupsi skala kecil maupun, mari kita berjuang menjadi pribadi yang lebih jujur, dan berahlak mulia. Jadi kesimpulannya, Islam itu indah, tetapi kita sebagai umat islam, seringkali membuatnya tampak buruk. Kalau kita orang Islam, wajib malu dengan stigam korupsi yang melekat di negeri ini. Kebenaran itu mutlak milik Allah, dan bila ada kesalahan maka itu semata karna kekhilafan saya. Billahi disabilliah. Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh."

Yah, itulah yang dilakukan laki-laki berkemeja kotak-kota yang ditemu Gita selalu dalam angkutan umum. Ceramah yang tidak mengharapkan imbalan.

Gita harus berterima kasih atas pertolongan laki-laki berkemeja kotak-kotak ini yang pernah meneolongnya cari pencopet handphonenya.
Ketika laki-laki ini turun, Gita ikut turun. Gita menayai namanya. Namun angkutan umum berikutnya datang sebelum Gita mendengar jelas nama si laki-laki berkemeja kotak-kotak itu. Maka yang terdengar hanya nama Fisabillah.

Kita sama-sama tunggu kelanjutan cerita keren ini di KETIKA MAS GAGAH PERGI 2.

Akankan Gita bisa berbaikan dengan Mas Gagah, berkenalan dengan sepupu Tika, dan bertemu kembali dengan Mas Fisabillahnya.


Dalam film, perhatian kita akan sepenuhnya teralihkan pada sikap santun Mas Gagah pada mahluk yang memang bukan muhkrimnya. Karna bahkan pada perempuan yang dijadikan Ibu dan Adik kandungnya di film Ketika Mas Gagah Pergi ini, tidak terlihat sekali atau sedikitpun mereka saling bersentuhan. Namun ajaibnya, kasih sayang tulus sebuah keluarga sangat terlihat jelas disana.