Selasa, 29 November 2016

Dari yang Terdalam untuk yang Terdiam

Sikap yang datang dari perasaan terdalam tidak akan pernah bisa dipendam.
Pejalanan Ciamis-Jakarta, bukti yang harusnya bisa membuat hati minimal "bergetar".

Saudaraku....
Apa yang saat ini sedang kalian lakuan sungguh membuktikan bahwa kalian memang "pasukan bayaran", lebih dari sekedar lima ratus ribuan.
Bayaran untuk sebuah keyakinan, takkan bisa diperlihatkan kepada yang sangat mencintai keduaniawian. Perjalanan yang kalian lakukan, membuktikan.

Rabu, 23 November 2016

Galau (Gangguan Masa Lampau)

"Loe di omongin terus tiap malem sama dia" Chat seorang teman di suatu malam.

Teman, kau hanya baru saja memberi tahuku bagian dari dirinya yang ingin ku lalui.

Lelah merasa dibayangi, sudah sangat jarang dia ku hubungi. Tapi karena kita berteman,  selalu ada orang lain yang seolah menjembatani.
Kami berteman dari SMA, namun rasa tak lagi sama semenjak ada "kata-kata tertulis" yang entah siapa pelaku sebenarnya.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Dari Santri Untuk Negeri

"Meski bakti mereka pada negeri sering di salah arti, mereka tak pernah berniat menyakiti"

Kalimat yang gagal aku kembangkan karena terbatas pengetahuan dan pengalaman, sehingga sebuah kesempatan harus ku relakan.

Tapi tak apa, akan ku gunakan kesempatan kali ini untuk menulis sedikit cerita anak santri yang ku ketahui dengan pasti.
Tentang tiga orang pejuang yang dengan bangga ku sebut, Adikku.
Sebuah penghargaan di hari perayaan; Hari Santri Nasional.

"Sukarela atau Terpaksa"

Baharuddin, dia si pertama yang dengan sukarela memulai segala. Dari berpisah dengan orang tua hingga saudara.
Dan, baru saja jauh dari keluarga, dia mendapat sebuah luka.
Meski cerita tentang luka ini tak sepenuhnya bisa kami percaya, tak apa! karena luka itu tak mampu menghentikan langkahnya. Dan dia membuktikannya.
Membuktikan bahwa; sekolah yang dianggap banyak orang apa adanya, justru membuatnya mengerti cara berjuang untuk menjadi juara yang sebenarnya. Alhamdulillah.

Ahmad Fauzan, si kedua ini istimewa. Kenapa? Kerena dia bisa dikatakan sukarela sekaligus terpaksa.
Dia anak yang tak banyak pinta. Jadi, apapun yang kami sarankan untuknya, dia tak akan serta merta menolaknya.
Meski saat itu banyak kawan SDnya memilih sekolah umum, dia tidak membantah petuah. Kamipun tidak pernah mendengarnya berkilah di sekolah. Alhamdulillah.
Dia sungguh istimewa, karena selalu sanggup membuat kami kerja ekstra, bahkan hanya untuk membuatnya berkata.

Ahmad Yumni, dan yang ini sungguh paling berbeda. Dia sering menegaskan pada kami bahwa dia terpaksa.
Dia anak yang mudah mengikuti arus. Karena itu sebagai keluarga, kami harus menunjukan jalan yang meski tak mulus, setidaknya tidak akan pernah membuatnya terjerumus.
Dia sering mengajukan syarat agar bisa membuatnya menurut. Dan bukan karena kami takut dia nekat akan minggat, maka kami harus memenuhi tiap syarat. Tidak demikian!
Karena pada dasarnya, dia anak yang penurut. Kami hanya perlu bicara lembut dan memberinya waktu. Setelah itu, dia yang akan lebih dulu menyadari bahwa dia sungguh keliru. Alhamdulillah.



Tetaplah menjadi pejuang yang tak banyak pinta meneruskan titah para ulama meski karena terpaksa.
Karena tiap manusia memang harus "memaksa" diri untuk menemukan kemenangan setelah perjuangan.




- Selamat Hari Santri Nasional -

Selasa, 18 Oktober 2016

Kakak-Adek Ketemu Gede'

Gue belum mau bahas tingkat "padepokan", baru mau bahas "kakak-Adek-an".

Yup! Istilah populernya, kakak-ade ketemu gede'.
Dan dalam hal ini, gue bakal bahas dari pihak cewek.


Pertama, emang harus selalu ada batesan biar ga kebablasan.
Sekarang, cewek mana sih yang ga seneng dapet perhatian? Tapi yang penting jangan baperan!
Karna kalo udah sampe baperan, bukan ga mungkin sampe ke tingkat ngancurin hubungan.
Entah itu pertemanan atau pernikahan.

Kedua, kalo cowok dikasih sifat alami melindungi, maka cewek di anugerahi kemampuan menditeksi.
Terditeksi modus, batesin! Terditeksi tulus, tegesin; "cuma kakak-adek-an, ga usah berlebihan!"




Senin, 17 Oktober 2016

Serpihan Kaca

Entah itu si miskin atau si kaya, tidaklah boleh merasa berkuasa! karena ada yang lebih kuasa. Bahkan terhadap diri, tidaklah bisa! karena masih ada sang Maha Penentu Segala!


Ayah, maafkan ananda jika pagi ini membuatmu dalam bahaya.
Serpihan kaca yang ku ambil dari pundakmu, memberi tahuku; "Mungkin saja ada serpihan kaca yang lain, yang mengenai wajahmu". Namun kau menjawab tanyaku dengan: "Iya, kena sedikit"
Nada suaramu tegar, tapi mampu membuat hatiku bergetar.

Ayah, dari balik punggungmu, dengan menggamit pinggulmu, ananda bisa merasa kau gundah, meski tak goyah. Sungguh tak perlu kau pertaruhkan nyawa hanya agar ananda tidak telat berkerja. Karena jika ayahanda terluka, ananda tidak akan peduli segala.

Ayah, TEGAR, kata yang dengan baik bisa ananda pelajari dari mu, namun ananda tidak akan pernah bisa menjalaninya tanpa mu.

Ayanda sering bilang; "Jika kita sebagai hamba slalu mengingat_NYA, dimanapun dan kapanpun. Maka tak ada pula alasan bagi_NYA untuk tidak melindungi hambanya.
Dan hari ini ananda melihat buktinya. Karena bukankah serpihan kaca yang pecah itu tajam dan terpental?
Tapi atas kuasa_NYA, tak satupun bisa mengenai atau bahkan bisa melukai serius wajah ayah dan ananda.



Amarah.
Bersabarlah! karena jalan sedang dibuka dua arah.
Aku hanya seorang putri dari seorang ayah yang kaca spion motornya anda tabrak! Dengan mengendari mobil, mungkin membuat anda merasa berkuasa lebih besar di jalan raya. Tapi tolong, jangan sampai hal itu membuat anda lupa bahwa anda manusia yang masih "memiliki rasa".
Rasa yang ketika membuat anda tidak berdaya, tak peduli si miskin atau si kaya, airmata lah yang akan berkata. Sama!

Aku bukan seorang yang suka memendam dendam. Tapi aku akan sangat sulit memaafkan sebuah kesengajaan. Semoga anda bisa mempelajari kejadian ini sebagai pembelajaran tanpa pembenaran!
Dan, inilah usaha pengendalian amarahku dengan menyelesaikan tulisan ini tanpa umpatan.

Senin, 17 oktober 2016.

Selasa, 04 Oktober 2016

Mendekatkan yang jauh, dan Menjauhkan yang dekat

Bagaimana bisa melewatkan sehari tanpa melihat handphone? Bisa!
Nyatanya memang bisa walau dengan "di paksa".

....Sebelum tidur rajin nge-cek handphone, bangun tidur pun yang pertama kali di lihat adalah handphone.
Meski harus menerima keadaan karena "di paksa", aku justru merasa lebih peka. Peka terhadap sebuah fakta!


Dulu...,
Anak 90-an, tidak pernah takut melewatkan ketidak update-tan.
Sulit ku percaya, waktu bisa membuat banyak hal sama terlihat berbeda. Dari sembilan bersaudara, mulai dari dua kakak sampai dua adikku, adalah masa dimana handphone bukan kebutuhan utama. Kami hanya tahu jika ingin banyak teman dan menjadi anak gaul, yah harus membaur.

Anak 90-an, walau belum pandai memposting, kami adalah anak-anak yang tahan banting. Kala mendapat hukuman untuk mempertanggung jawabkan kenakalan, kami tidak perlu mempostingnya untuk sekedar mendapat dukungan.
Keadaan yang kian diperparah dengan sebutan zaman, "Memaha benarkan postingan" dan bukan mencari kebenaran.

Anak 90-an, adalah anak-anak yang lebih suka ber-larian dari pada internet-an.
Ingatkah kalian kawan?
Hampir di setiap sore kita sibuk berlarian mencoba mengerjar lawan dalam sebuah permainan yang kita namakan, "Bentengan".
Anak perempuannya hanya aku dan satu lagi temanku, Yati. Tapi jangan pernah coba remehkan kami.
Percaya atau tidak, kami mampu menyamai lari dari anak laki-laki. Dan meski kami anak perempuan, kami tidak pernah mendapat perlakuan "dibedakan".
Kami dianggap cukup menakutkan oleh pihak lawan, karena itulah kami selalu di pisahkan. Lalu kami berdua harus berada di dua kelompok yang berbeda.
Dan kemudian, hanya akan ada satu hal yang bisa menghentikan kita dari permainan. Sebuah teriakan; "Mandiiiiiiiii, udah soreeee!" teriakan dari salah satu ibu kita (meski lebih sering dari ibuku)

Tak jarang, ibu-ibu kami ikut berkumpul. Entah hanya untuk merumpi atau ikut mencurangi.
Si ibu akan memberitahu persembunyian lawan pada anak atau pada sang kawan. Dan kita, yang merasa dirugikan akan tetap dengan sopan meminta sang ibu diam.

Benar-benar dekat tanpa sekat.


Kini...,
Anak-anak 90-an telah hidup di tengah kemajuan zaman. Membuat aku dan teman-teman melupakan arti sebenarnya dari sebuah KEBERSAMAAN.
Kita terlihat bersama, tapi di saat bersamaan kita terpisah. Duduk bersebelahan pun seolah berjauhan, karena handphone lebih sering menjadi pegangan.
Bangga akan sebuah tujuan; "Mendekatkan yang Jauh", meski dengan cara "Menjauhkan yang Dekat".
Bukan kemajuan zaman yang salah. Tapi cara kita menikmatinya yang tak benar.

Dan benar!, aku menyadari hal ini karena "pegangan" ku sedang tidak ada. Namun hal itulah yang kembali membuatku mengerti bahwa; Kebersamaan bukan untuk di Korbankan. Tapi Berkorbanlah demi sebuah Kebersamaan.


Karena itu, aku tak resah saat handphone bermasalah. Bukan pula karena sedang berkilah.
Tapi Percayalah! Sebuah rasa akan kembali bermakna kala sesuatu telah tiada.




Terakhir, terima kasih untuk handphone karena telah mematikan diri. Sehingga aku bisa menajamkan hati.