Selasa, 05 Juni 2018

Yakin! Jodoh pasti Bertemu


#cerpenHS
‘Yakin! Jodoh pasti Bertemu’
Nurhayati Ne_tea


“Sal, apa diantara temen sekolah kita ngga ada yang kamu suka?”
Pertanyaan Elisa membuatku tidak jadi meneguk minuman coklat favorit ku.
“Kamu tau ceritanya El, dan aku tidak ingin mengulanginya. Lagipula, kisahku mungkin tidak sama dengan kisahmu dan suamimu, yang berawal di kursi sekolahan dan berlanjut hingga kursi pelaminan.”


***
Aku dan Elisa berteman sedari kami disekolah dasar hingga menengah atas. Aku tahu siapa cinta pertamanya hingga pelabuhan terakhirnya kini. Dana.
Dana, teman yang baru Aku dan Elisa kenal di SMA. Aku, bahkan Elisa sekalipun tidak mengira bahwa Dana lah orangnya.
Dana itu termasuk teman kami yang pecicilan dan ngocol. Sama sekali bukan tipe Elisa. Tapi yah, itulah rahasia jodoh Sang Maha membolak-balikan hati.
Dan saat ini rumah tangga mereka telah dimeriahkan dengan kehadiran si kecil Ona, Monalisa Fitri Hermawan.


…Di SMA itu, ada sosok yang sangat Aku dan Elisa kagumi. Jagat Satria.
Dia kakak kelas, pintar, jago main basket, anak rohis pula. Jadi tidak hanya teman-teman dikelas kami, tapi “se-jagat” sekolah menyukainya. Kalau pakai bahasa keren sekarang, dia punya ‘fansbase’ cewek-cewek sendiri disekolah. Termasuk yang diketuai oleh Ratna dan Reva.
Jika dibandingkan dengan Ratih dan Reva, yang tingkat pengetahuannya diatas rata-rata tentang sosok Kak Jagat Satria, Aku dan Elisa kalah jauh. Dan Dana yang satu organisasi dengan Kak Jagat, kami jadikan sebagai informan. Bahkan nomor telephone Kak Jagat, ku dapat darinya.

Hari itu, setelah bel istirahat berbunyi, saat kami hampir bersamaan keluar dari kelas masing-masing, kami dikejutkan dengan pemandangan yang tidak pernah kami duga akan kami lihat disana.
Jagat Satria sedang ‘dijemur’ dilapangan. Sedang disampingnya berdiri seorang anak yang memang sudah terkenal sebagai ‘trouble maker’ disekolah, dan sudah sering dihukum dilapangan. Yang juga Aku, Elisa, dan Dana, kenal dengan cukup baik. Prasetyo.
Dan diantara mereka, berdiri Pak Melson Manurung, guru BP kami.
Kami semua bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Kak Jagat? Tak terkecuali Ratna dan Reva. Mereka berdua berlari bersama teman-teman yang lain mendekati lapangan agar bisa mendengar apa yang Pak Melson katakan.
Bagaimana bisa sampai Kak Jagat berurusan dengan Pak Melson? Aku dan Elisa, menghujamkan tatapan penuh tanya pada Dana yang berdiri tepat dibelakang kami. Tapi Dana hanya mengangkat bahu sebagai jawaban tidak tahu.
“Lalu apa lagi yang dilakukan Tyo kali ini?” tanya Elisa pada Dana, yang lagi-lagi dijawab dengan mengangkat bahu.
Kami yang hendak ke kantin berjalan perlahan saat melewati lapangan. Mataku dan Mata Kak Jagat bertemu, setelah kemudian dia kembali menunduk.


***
“Hei!, Hallooo? Ngelamun yah?”
Sedetik kemudian tersadar dari kenangan dimasa SMA dulu, karena sekelebat telapak tangan mengayun-ayun di depan wajahku.
“Ngga El, cuma lagi teringat kejadian disekolah dulu”
“Kejadian yang mana?”
“Saat Kak Jagat dijemur Pak Melson dilapangan bareng Tyo”
“Oooh, kejadian yang sampai sekarang, kita ngga tau pasti apa sebabnya”
“Yah”

“Emm..h,” kulihat si kecil Ona menggeliat di kereta dorong bayinya. Sepertinya dia mulai terbangun dari tidurnya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” Aku dan Elisa menoleh ke arah suara, yang ternyata adalah Dana.
“Waaah, Ona bangun karena tau Ayah sudah datang yah sayang” kataku pada si kecil Ona sambil menjembil pipi bakpaunya, yang dibalas tatapan tajam dari Bundanya.
“Iya dong tante, Ona kan anak pintarnya Ayah”
“Kamu terlambat Mas! Katanya setelah menurunkan kami disini, kamu ngga pergi lama. Tapi sampai tempat ini ramai, kamu baru sampai” protes Elisa pada suaminya.
“Iyah maaf sayaang. Seperti biasa, jalanan ngga pernah bisa diprediksi.” Dana mencoba menjelaskan.

Saat mereka terlibat perbincangan suami-istri, aku kembali menikmati minuman coklat favorit ku .
“Tadi sebelum kamu dateng, Salsa sempet ngelamun. Katanya lagi balik ke kenangan masa SMA dulu. Tepatnya di kejadian dimana Kak Jagat dijemur Pak Melson bareng Tyo, yang sebabnya masih misterius sampai sekarang.” Cerita Elisa pada suaminya.
“Itu karena kamu, Sal!”

Fruuhh!
Minuman coklat yang sedang ku minum menyembur keluar dari mulut sehingga membuatku terbatuk-batuk. Segera ku pastikan bahwa aku tidak salah dengar.
“Apa Dan?” tanyaku yang dibarengi tatapan terkejut Elisa pada suaminya.
“Aku rasa, sekarang sudah saatnya kamu tau Sal”
Dana mengambil posisi duduk, dan siap bercerita.
“Kejadian dilapangan itu, dan semua yang terjadi setelah itu, bermula dari kejadian satu hari sebelumnya. Hari dimana kita menerima Raport dari hasil semester kita.”


***
Betapa bahagianya aku menerima hasil belajarku di semester ini. Bagaimana tidak? Aku masuk tiga besar!
“Selamet yah Sal”
“Iyah, makasih El”
“Makan-makan lah kita, diteraktir sama yang masuk tiga besar” pinta Tyo dan Dana bersamaan.
“Uuu..uh, kalian lah yang teraktir. Kan Salsa yang berhasil!” bela Elisa untuk ku
“Yaudah, setelah ini kan kita udah ngga ada jam pelajaran. Bagaimana kalo kita ke kantin, abis itu baru kita pulang. Mau? Gue deh yang bayarin!” Ajak Tyo, dan kita semua berjalan keluar menuju kantin.
Baru beberapa langkah keluar dari pintu kelas, ada suara memanggil namaku.
“Salsa!”
Itu suara Kak Jagat. Sambil sedikit berlari dia mendekati kami berempat.
“Selamet yah.” Katanya setelah berdiri tepat dihadapanku.
“Eh!? ii..iyah, makasih Kak.” Sambil menggaruk kepala yang tak gatal “Tapi untuk apa Kak?”
“Kamu lucu. Udah bilang makasih tapi masih belum tau untuk apa.” Kak Jagat tersenyum, yang membuatku semakin salah tingkah. “Ini karena kamu dapat peringkat ketiga”
“Waah, Kak Jagat juga tau?” Elisa yang tiba-tiba bersuara.
“Tentu!” Kak Jagat menoleh ke arah Elisa untuk menjawabnya.
“Pertahankan, dan harus ditingkatkan supaya dapat peringkat ke satu” kata Kak Jagat yang kembali menoleh ke arah ku. Dan melihatku mengangguk gugup.
“Ya sudah, Kakak duluan yah” belum sempat ku jawab, Kak Jagat sudah melangkah pergi.
“Gimana cewek-cewek disini ngga suka sama dia. Udah sopan, pinter, dan baru kali ini kita bicara sama dia sedeket ini kan Sal? Anak rohis tuh emang beda yah Sal?” Elisa bisa terus nyerocos, kalau saja Tyo tidak memotongnya dengan bertanya; “Jadi ngga nih ke kantinnya?”
“Kalian bertiga aja yah! Aku mau langsung pulang.”
“Kenapa?! Karena Jagat udah ngucapin selamet ke kamu, kamu udah ngerasa cukup dan ngga mau ikut?” protes Tyo sambil menarik tanganku.
“Kak Jagat Tyo! Dan kamu juga ngga boleh maksa aku. Lepasin tanganku, Aku mau pulang!” dengan susah payah ku menghempaskan tangan Tyo agar genggamannya terlepas. Dan sebelum Tyo kembali meraih tanganku, Dana menghalanginya. “Udah-udah. Yo, loe ke kantin bareng gue. Dan biarin Salsa pulang bareng Elisa.”
Aku dan Elisa pergi meninggalkan Dana dan Tyo yang masih terlihat emosi.


***
“Sal!?”
“Hah! Iyah” sekali lagi aku tergagap.
“Intinya hari itu mereka sama-sama cemburu Sal, akupun baru tau kalau ternyata Kak Jagat melihat apa yang dilakukan Tyo padamu di depan kelas hari itu. Dilapangan itulah semua terungkap.
Setelah dari kantin, aku dan Tyo bertemu Kak Jagat yang masih berlatih basket sendirian dilapangan. Tyo menghampirinya sambil berkata; “kalau bermain tanpa lawan, tentu akan mudah menang!” dan Kak Jagat yang merasa tertantang, melemparkan bola basket itu kepada Tyo. Awalnya permainan itu terlihat biasa, namun tiba-tiba terlihat seperti ‘persaingan’. Dan aku mulai mendekat ke arah mereka.”
“Loe ngga usah sok ganteng, dan merasa bisa ngedeketin semua cewek disekolah ini” Tyo mengatakannya sambil mendorong badan Kak Jagat. Detik itu, Kak Jagat hanya membalasnya dengan berkata; “Kamu yang seharusnya tidak mendekati, dengan cara memaksa.”
“Seketika itu Tyo langsung memukul Kak Jagat, Sal! Aku langsung menjauhkan Tyo dari Kak Jagat. Tapi justru aku terkejut karena Kak Jagat malah mendekat dan membalas pukulan Tyo tanpa sempat aku cegah. Akhirnya aku tidak bisa menahan mereka berdua. Sialnya ternyata Pak Melson belum pulang, dia keluar dari kantornya, lalu bukan hal sulit baginya untuk menghentikan perkelahian yang terjadi. Dan jika bukan karena Kak Jagat membelaku, aku pasti akan ikut dijemur dilapangan hari itu.
Kak Jagat mengatakan pada Pak Melson bahwa perkelahian itu hanya antara Dia dan Tyo, dan aku sama-sekali tidak terlibat. Dengan hal itulah Kak Jagat membuatku berjanji untuk tidak memberi tau apa yang terjadi pada siapapun, terutama padamu, Sal.”

Aku menjatuhkan badanku ke sandaran kursi, tak menyangka apa yang baru saja ku ketahui.
“Sal, kamu ngga apa-apa?” tanya Elisa cemas sambil menggenggam tanganku.
“Aku tidak mungkin baik-baik saja El. Ternyata selama ini, arti dari tatapan sinis Ratih dan Reva adalah karena, akulah penyebab Kak Jagat dihukum.”
“Sebaiknya sekarang kami antar kamu pulang Sal. Ayok!” ajak Elisa sambil membantuku berdiri, dengan Ona digendongan Ayahnya.

Diperjalanan pulang, Elisa terus berkata “Jangan menyalahkan dirimu Sal. Setidaknya sekarang kamu tau siapa yang dia bela.” Namun aku sudah tidak lagi memperdulikan apapaun yang dikatakan Elisa juga Dana yang terus meminta maaf padaku. Aku hanya ingin segera pulang, dan melihat sebuah barang.

Sampai rumah aku langsung mencarinya. Handphone.
Handphone ini satu-satunya barang yang bisa menghubungkan ku dengan Kak Jagat. Dari mulai percakapan pertama lewat pesan singkat setelah kejadian dilapangan hari itu, hingga pesan terakhir Kak Jagat dimalam setelah acara perpisahan angkatannya disekolah yang belum sempat ku jawab.
“Aku tidak suka cara Tyo memaksanya”. Penjelasan singkat Kak Jagat saat ku tanyakan kenapa dia berkelahi dengan Tyo. Dan sekarang aku baru tahu siapa yang dia sebut dengan ‘nya’ saat itu. Aku.
Aku ingin memberi tahu mu, Kak Jagat; “Handphone ini sudah tidak lagi dapat ku gunakan karena satu kecerobohan. Dan hanya dihandphone ini nomor mu ku simpan. Lalu satu tahun yang lalu, nomor yang Kak Jagat tahu, sudah terblokir karena terlewat mengisi ulang.”
Sebelum nomor ku terblokir, aku hanya bisa menunggu Kak Jagat menghubungi ku kembali. Namun setahun yang lalu, satu-satunya harapanku itupun ikut mati.

 “Jaga dirimu baik-baik Salsabila Rahayu.”
Pesan terkahir penuh arti yang kini baru ku mengerti.

“Lagu Harris J terdengar” handpone yang ku letakan dikasur berdering. Pasti Elisa.
“Sal, kamu pasti masih memikirkan cerita Mas Dana tadi yah? Maafkan Mas Dana yah Sal. Dia juga sangat menyesal baru menceritakan semuanya padamu setelah kita semua sudah tidak bisa lagi menghubunginya.”
“Ngga apa-apa El, aku juga mengerti karena Dana hanya menepati janji.”
“Tapi Sal!?”
“Sudahlah, tidak apa-apa. Sungguh. Dan ini sudah malam, sebaiknya kamu istirahat El, sampaikan salam ciumku untuk Ona.”
“Kamu juga harus istirahat Sal. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam El.”

Aku tahu pasti Elisa sangat khawatir. Tapi aku Yakin! Jodoh pasti Bertemu.

Djakarta, 05 juni 2018.


Selasa, 27 Februari 2018

Jangan Ragu Untuk Menyapa


"Kita tetap bersama yah, dan jangan pernah berubah"
Saat mengucapkannya kita lupa bahwa waktu bisa merubah segalanya. Aku jadi kembali teringat pada sebuah ungkapan "Jangan berjanji jika tidak bisa menepati".

Aku, yang murid pindahan dari salah satu sekolah dijakarta, awalnya tidak terlalu menyukai teman-teman baruku. Mereka sering iseng. Namun saat aku mengadu pada ibuku, beliau berkata "Ngga apa-apa, nanti akan ada teman yang baik"
Rasanya aku selalu ingin kembali ke rumah dan sekolah ku dijakarta, tapi Ibu bilang "sekarang rumah dan sekolah mu disini, jadi kamu harus terbiasa dan suka berada disini"

Ibu benar, seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa dan suka karena sudah punya beberapa teman. Ada salah satu dari mereka yang namaku dan namanya hanya beda satu dari empat huruf. Kami sering disebut 'anak kembar', dan disamakan dengan si kembar dari serial Tsubasa, 'Tachibana'. Anak 90'an pasti tahu siapa mereka :-) .

Rumah teman-temanku itu tidak jauh dari rumahku, karenanya mudah saja bagi kami untuk bertemu dan berkumpul. Meski awalnya bukan karena suka, aku putuskan tetap berada disekolah yang sama untuk melanjutkan tingkat menengah pertama hingga tingkat atas ku. Alasannya, aku adalah salah satu type orang yang tidak terlalu suka untuk sering memulai kembali dari awal untuk sebuah hubungan. Aku lebih suka menjaga yang sudah terjalin.

Dari lima orang, menyusut menjadi empat orang yang kembali bertemu disekolah menengah pertama. Tapi aku dengan satu temanku yang terpisah itu sering menjalin komunikasi lewat surat. Tentu saja kerena saat itu handphone belum sedominan saat ini.

to be continue,

Selasa, 07 Maret 2017

Tulang Rusuk



Aya : “Belum ada seseorang yang bisa membuat ku merasakan sesuatu.”

Mahi : “Woy, non! Jangan kebanyakan nonton film india biar ngga keseringan ngayal punya pangeran impian dari negeri king khan.”

Aya : “hey, ini tuh bukan khayalan tapi sebuah harapan. Sama seperti halnya kita percaya bahwa tulang rusuk, tidak akan pernah tertukar.”
Setelah pernikahan Anggi, kamu yang lebih sering menemaniku, dan saat ini kamu sedang dalam persiapan pernikahan. Jadi tolong, setidaknya “jangan ambil” harapan yang bisa menemaniku setelah kamu menikah nanti.
 
Mahi : “Iyah, tapi kamu jangan terlalu memilih Ay”

Aya : “Nih, aku mau tanya sama kamu; kamu mau menikah sama Arfin, karena dia punya sesuatu yang menurut kamu tidak di miliki oleh pria lain, iya kan? Terus, apa itu bukan “memilih” namanya? Jadi bohong!, kalau ada yang mengatakan; “aku ngga pilih-pilih kok”.
Maka biarkan aku memperbaiki diri, agar jika Allah telah “pilihkan” seseorang untukku, aku telah cukup pantas untuknya.”

Mahi : “Dan aku berharap “seseorang” itu memiliki keahlian khusus agar bisa mengalahkan segudang argument keren mu itu”.


Perdebatan antar sahabat itu mendekatkan. Dan hal itu yang kini ku rindu. Setelah Anggi, lalu Mahi. Dan aku, masih sendiri. Sendiri yang berjanji untuk terus memperbaiki diri.

Sahabat ku Anggi menikah dengan pria yang sebelumnya tidak Aku dan Mahi kenal. Sehingga jika Anggi tidak bercerita, kami berdua tidak akan pernah tahu apapun tentang hubungannya dengan pria yang di pilihnya untuk menjadi pendamping hidupnya.
Setelah lulus SMA Anggi pernah pacaran dengan teman sekelas, meski tak berlangsung lama, dan setelah hubungan yang tidak berlangsung lama itu, Allah arahkan dia pada pemilik tulang rusuk yang sebenarnya.
Perubahan yang sebenarnya terjadi otomatis bagi perempuan yang telah menikah, Anggi menjadi jarang sekali bisa berkumpul bersama kami, di tambah Allah tak menunda untuk memberinya anugerah seorang bayi.
Pernah suatu waktu Aku dan Mahi ke rumah kontrakannya untuk mengajaknya nonton film, saat itu dia sedang bersama bayi mungilnya.
Anggi mengatakan tidak, untuk ajakan kami, keputusan itu dia ambil bukan karena tanggung jawabnya sebagai seorang istri tapi untuk tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Karena sebenarnya suaminya mempersilahkannya pergi jika memang Anggi ingin pergi. Namun Anggi tetap pada keputusannya. Dan untuk alasan yang sama, kami dengan senang hati mengalah.

Berbeda dengan Anggi, sahabat ku Mahi menikah dengan pria yang memang telah kami kenal sejak di sekolah menengah pertama.
Awalnya Mahi sendiri pun tidak menduga bahwa, Arfin lah pemilik tulang rusuk itu. Karena sebelum bersama Mahi, Arfin pernah menjalani hubungan pacaran dengan Ana, yang juga teman kami. Dan hal itulah yang menjadi ganjalan besar bagi Mahi untuk menerima Arfin.
Aku pernah di mintai tolong oleh Arfin untuk berbicara pada Mahi yang masih terus menolaknya karena masalah hubungan sebelumnya dengan Ana. Saat itu aku harus tetap memposisikan diriku di tengah, tidak memihak Mahi, Ana, apalagi Arfin.
Ku katakan padanya untuk menyelasaikannya secara dewasa. 
“Kalau mau memulai hubungan baru, mulai lah dengan tanpa membuat siapa pun terluka. Dan mengenai Mahi, kalau memang loe serius sama dia, perjuangkan, kemudian buktikan! Karena ngga semua cewek gampang jatuh cinta”.
 
Kepada Ana, aku pun coba bertanya tentang apa yang dia rasa. Dan berbeda dengan pengakuan Arfin yang ku dengar lewat Mahi, Ana merasa dirinya lah yang lebih tersakiti dari berakhirnya hubungan itu.
Aku rasa Mahi benar-benar dilema. Karena sejak saat itu, Mahi sudah tidak pernah cerita apapun lagi tentang kelanjutan hubungannya dengan Arfin. Aku selalu tahu dari orang lain, hingga kabar bahagia itu ku dengar.
Dan sekali lagi, Tulang Rusuk memang tidak akan pernah tertukar.

Aku yang terkadang membagi moment bahagia ke media social, untuk kali ini tidak ku lakukan. Karena aku tidak ingin menjadi pembeda antara bahagia dan luka.
Sebelum kisah Mahi dan karena kisah Anggi aku sempat berpikir, mungkin lebih baik jika aku menikah dengan teman sendiri karena tak perlu bagiku untuk memperkenalkannya pada teman-teman, dan tak perlu berusaha membuatnya nyaman. Namun, dengan adanya kisah Mahi dan Arfin, aku jadi harus kembali berpikir dengan kesimpulanku itu.

Menikah dengan pria yang baru ku kenal karena ta’aruf-an, atau dengan pria yang sebelumnya di sebut teman, asal Allah berkenan.

Dear Jodoh,
Jika ada yang bilang kamu itu harus Shaleh, baik, dan pekerja keras, kurasa itu bukan sebuah kriteria, tapi sesuatu yang memang harus di miliki oleh seorang pria. Aku tidak pernah secara spesifik menginginkan seperti apa dirimu, karena tampan bisa dengan mudah terlihat dari bagaimana sikap mu.
Namun yah, aku punya satu hal yang mungkin bisa di sebut syarat; Kamu bukan perokok.
Dimana diri mu? seperti apa rupa mu? Lalu bagaimana dan kapan kita akan bertemu?
Hanya Allah yang tahu.

Tentang jodoh, ku percayakan sepenuhnya pada ALLAH. Biar ku nikmati misteri tentang kapan tulang rusuk ini akan di kembalikan pada pemiliknya.



Nurhayati Ne_tea

Yakin! Jodoh pasti Bertemu

#cerpenHS ‘Yakin! Jodoh pasti Bertemu’ Nurhayati Ne_tea “Sal, apa diantara temen sekolah kita ngga ada yang kamu suka?” Perta...