Senin, 17 Oktober 2016

Serpihan Kaca

Entah itu si miskin atau si kaya, tidaklah boleh merasa berkuasa! karena ada yang lebih kuasa.
Bahkan terhadap diri, tidaklah juga bisa! karena masih ada sang Maha Penentu Segala!


Ayah, maafkan ananda jika pagi ini membuatmu dalam bahaya.
Serpihan kaca yang ku ambil dari pundakmu, memberi tahuku; "Mungkin saja ada serpihan kaca yang lain, yang mengenai wajahmu". Namun kau menjawab tanyaku dengan: "Iya, kena sedikit"
Nada suaramu tegar, tapi mampu membuat hatiku bergetar.

Ayah, dari balik punggungmu, dengan menggamit pinggulmu, ananda bisa merasa kau gundah, meski tak goyah. Sungguh tak perlu kau pertaruhkan nyawa hanya agar ananda tidak telat berkerja. Karena jika ayahanda terluka, ananda tidak akan peduli segala.

Ayah, TEGAR, kata yang dengan baik bisa ananda pelajari dari mu, namun ananda tidak akan pernah bisa menjalaninya tanpa mu.

Ayanda sering bilang; "Jika kita sebagai hamba slalu mengingat_NYA, dimanapun dan kapanpun. Maka tak ada pula alasan bagi_NYA untuk tidak melindungi hambanya.
Dan hari ini ananda melihat buktinya. Karena bukankah serpihan kaca yang pecah itu tajam dan terpental?
Tapi atas kuasa_NYA, tak satupun bisa mengenai atau bahkan bisa melukai serius wajah ayah dan ananda.



Amarah.
Bersabarlah! karena jalan sedang dibuka dua arah.
Aku hanya seorang putri dari seorang ayah yang kaca spion motornya anda tabrak! Dengan mengendari mobil, mungkin membuat anda merasa berkuasa lebih besar di jalan raya. Tapi tolong, jangan sampai hal itu membuat anda lupa bahwa anda manusia yang masih "memiliki rasa".
Rasa yang ketika membuat anda tidak berdaya, tak peduli si miskin atau si kaya, airmata lah yang akan berkata. Sama!

Aku bukan seorang yang suka memendam dendam. Tapi aku akan sangat sulit memaafkan sebuah kesengajaan. Semoga anda bisa mempelajari kejadian ini sebagai pembelajaran tanpa pembenaran!
Dan, inilah usaha pengendalian amarahku dengan menyelesaikan tulisan ini tanpa umpatan.

Senin, 17 oktober 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Ragu Untuk Menyapa

"Kita tetap bersama yah, dan jangan pernah berubah" Saat mengucapkannya kita lupa bahwa waktu bisa merubah segalanya. Aku jadi...